Friday, August 12, 2011

came out the class

The theme for learning was Up and Away. Children made 2D Picture on display board. They were encourage to draw their imagine kites. Some of them made princess-kites, or just draw their self. Ones just scratched, others made banana-kites, spider-kites, alien-kites, bird-kites. Afterwards they could coloring a figure outline which represent to their selves. for the grass, children were encourage  to cut on the black line of pieces green paper that I've made. Then we sticked all of our works on the board with push pins. From this simple activity, children learned that their kites could go up if there's wind, and wind can blow away all the light things.


Saturday, July 16, 2011

Came out the class

Butterfly Recycle-Made

Here is a simple idea to make a Butterfly from recycle stuffs. It’s easy and children between 3 to 4 years old surely can do it, of course with our assistance. My children in Nursery class which are 3 to 4 years old can made it with minimum help from me.




What do we need?
The materials needed are:
1 tissue roll/toilet roll
1 stick (ice cream stick)
Butterfly outline on paper (you can make it by yourself. You just need to draw an outline of butterfly on a paper, or search it on Mr. Google and then print out in A3 size)
2 googlie eyes
Pipe cleaner (about 10 cm length)
Tempera paint

And the tools needed are:
Scissor, paint brush, glue.

How to make it?
1.    Fold the outline of your butterfly into two. Make sure that you fold it in the middle and each side has same size. After that, paint it using tempera paint and small brush but only on one side. Then fold on the other side, so you’ll have paint refraction on the blank side. Open the folding again and let it dried.
2.    Take your toilet roll. If you want to, you can paint it too for the body of your butterfly. When it dried, glue the one-third stick into the toilet roll (use strong glue which can glue wood).
3.    Put the glue on the middle folding of your painted butterfly. Then paste it on your toilet roll. Let it dry in 5 minutes.
4.    Paste a pair of googlie eyes on the head of your butterfly. And make your antenna from small size pipe cleaner. Fold your pipe cleaner into two (same size, in the form like ‘V’) and then stick it behind the head of your butterfly. Make sure that you use strong glue which can glue fabric material but it still safe for children.
5.    Your Butterfly ready to be hanged on your window, or to be played on your garden.


Song about Butterfly:
Fly , fly, fly the butterfly. In the meadow, it’s flying high. In the garden, it’s flying low…
Fly, fly, fly the butterfly.

Friday, June 10, 2011

Language

Kindertaal: antara kreativitas dan imajinasi

Pada awal bekerja di sekolah internasional Belanda di kawasan Cilandak Timur, rasanya sulit untuk bisa berkomunikasi dengan anak murid. Sampai-sampai saya berpikir, "jangan-jangan memang saya yang bodoh? Masa kuliah bahasa Belanda 4 tahun tidak ada hasilnya?"
Ternyata setelah saya mencoba memahami anak-anak murid saya yang usianya sekitar 2 - 4 tahun, bukan pendengaran saya yang salah dan bukan kemahiran bahasa Belanda saya yang tidak kompeten. Anak-anak didik saya memang gemar menggunakan bahasa mereka sendiri (kindertaal) yang terkadang hanya dipahami oleh anak-anak itu sendiri.

Anak-anak usia dua tahun biasanya cenderung mulai memahami penggunaan bahasa mereka. mereka belum bisa mengucapkan satu kalimat penuh dengan konstruksi yang baik (sekitar 3-4 kata per kalimat). Mereka bicara dengan penggalan kata, misalnya:
mimik (untuk: aku mau minum), Bah! (untuk: jorok/kotor), Foeih! [baca: fuwi] untuk: tidak baik, tjoe-tjoe trein [baca: cu-cu trein] (untuk: kereta api), bum! (untuk: menabrak atau jatuh), auw! (untuk sakit atau aduh atau seseorang telah melakukan kontak fisik dengannya). Kata-kata yang bunyinya atau asalnya sama dengan bunyi aslinya disebut onomatopee.

Ada lagi seorang murid berusia empat tahun yang bahasanya juga sulit saya pahami karena ia cenderung menggunakan akronim untuk beberapa kata, seperti: makie, untuk makkelijk (mudah)
Ada juga yang menciptakan perbendaharaan kata baru, seperti:
- op er de pop /operdepop/: benar-benar habis
- stinkie stankie: bau tidak sedap
- yekie yakie: untuk hal yang menjijikkan
- uit de fluit: untuk makna "selesai" setelah membacakan buku
- puppe druppe: seonggok 'pup'
perbendaharaan kata baru tersebut dibuat seperti menyerupai rima. Memang anak-anak yang usianya lebih tua (3-4 tahun) senang bereksplorasi dengan bahasa hingga menciptakan perbendaharaan katanya sendiri yang bunyinya memiliki rima.

Berarti, bahasa anak-anak mungkin memang terbentuk karena imajinasi atau kreativitas yang muncul dari pengalaman empiris yang mereka lihat, dengar dan rasa.

Friday, May 20, 2011

Indie Book Corner: Penerbit yang Gak Tebang Pilih

Baru saja saya melihat recent feed di home page facebook saya (www.facebook.com/happyindah) dan status seorang teman sangat menarik perhatian saya. memang saya sangat hobi menulis dan bermimpi bisa menerbitkan buku saya, dibaca banyak orang dan menjadi setenar Ayu Utami atau

teman saya menyarankan dua site yang bisa membantu para penulis untuk menerbitkan bukunya, tidak secara hard copy tetapi dalam bentuk e-book. dua site itu adalah:
http://indiebook.wordpress.com/feed/
dan
http://www.nulisbuku.com

setelah mengunjungi dua site itu, saya lebih tertarik dengan site yang kedua karena tidak dikenakan biaya apapun. meskipun dalam bentuk e-book tetapi kita sebagai penulis akan tetap mendapatkan hak royalti kita.
so, you there.. the young writers! if you're interesting to make a book, you can just go to that site above and sign up! hopefully you find the way to make many people read your works og literature! keep on writing! 

Tuesday, May 17, 2011

Kembali ke Masa Lampau




Ayo ke Onrust!
16 April 2011


            Bersama komunitas Nol Derajat Indonesia, saya melakukan sebuah back to the past trip ke tiga pulau tak berpenghuni di kawasan kepulauan seribu, yaitu Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust.
Bertitik tolak dari Musium Jakarta, kami langsung menuju ke dermaga nelayan di Muara Angke dengan menyewa sebuah bis. Setibanya di Pelabuhan, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal motor milik nelayan setempat yang bisa disewa.



Pulau kelor menjadi tujuan pertama kami. Sepertinya, pepatah “dunia tak selebar daun kelor” mampu mengintepretasikan luas pulau ini. Pulau kecil berpasir putih ini seperti menyembul dari permukaan laut. Di atasnya masih berdiri sebuah peninggalan bangsa Belanda berupa galangan kapal dan benteng Martello yang dibangun oleh VOC pada abad ke-17 untuk menghadapi serangan kapal perang bangsa Portugis. Meskipun benteng tersebut terlihat masih kokoh, namun usia empat abad telah membuatnya semakin rapuh, terlihat dari batu bata yang mulai runtuh dan pecah serta beberapa sudut sudah retak. Di pulau ini juga terdapat kuburan awak kapal pribumi yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda. Ada pula cerita mistis yang beredar mengenai Pulau Kelor. Pulau kosong ini ternyata dihuni oleh belasan kucing di sekitar benteng Martello. Sayangnya, keindahan Pulau Kelor yang sempat mampir ke telinga saya tidak bisa saya temukan selain hanya sampah-sampah plastik di sepanjang bibir pantai. 








Selanjutnya kami bertandang ke Pulau Cipir atau juga disebut sebagai Pulau Kahyangan. Pulau Cipir letaknya berhadapan dengan Pulau Onrust. Pulau ini pernah digunakan oleh pemerintah Belanda sebagai tempat karantina haji pada tahun 1911-1933. Kini yang tampak hanya tinggal puing-puing bangunan yang dulu adalah barak haji, rumah sakit, dan tempat penampungan jemaah haji yang terkena penyakit menular. Tak jauh dari dermaga, terdapat tugu tiga batu besar dan beberapa meriam kuno buatan Belgia yang usianya sudah mencapai tiga abad dan dulunya berfungsi sebagai senjata pertahanan Pulau Cipir. Di ujung pulau yang berhadapan dengan Pulau Onrust terdapat barisan fondasi jembatan penghubung yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1911. Saat air laut surut akan nampak barisan batu bata merah yang tersusun menuju ke arah Pulau Onrust. Sayangnya lagi, situs bersejarah ini tidak mendapat perhatian yang baik dari pemerintah Indonesia. Banyak terjadi vandalisme terhadap puing-puing bangunan yang tersisa dan sampah rumah tangga

Destinasi terakhir kami adalah Pulau Onrust. Dalam bahasa Belanda, Onrust artinya “tidak beristirahat” atau “tidak tenang” atau dalam bahasa Inggris “Unrest”. Pada zaman Belanda, Pulau Onrust merupakan pelabuhan utama VOC untuk kapal-kapal yang akan masuk ke Batavia. Pulau ini juga menjadi markas tentara Belanda dalam melakukan bongkar muat logistik perang.
Setelah masa kemerdekaan, Pulau Onrust dijadikan rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular, penampungan para tunawisma dan pelatihan militer. Dalam sejarahnya, tahun 1968 Pulau Onrust dijarah habis-habisan sehingga bangunan-bangunan bersejarah itu tidak ada lagi dan hanya menyisakan puing-puing dan pondasi bangunan saja.
Di salah satu ujung pulau terdapat kompleks pemakaman Belanda dan pemakaman pribumi yang letaknya terpisah. Beberapa makam Belanda masih dapat diidentifikasi dari prasasti yang tertulis pada batu nisannya, sedangkan makam-makam pribumi tidak satu pun memiliki nisan untuk diidentifikasi. Selain itu juga terdapat makam yang dikeramatkan, yaitu makam seorang petinggi DI/TII yang dihukum mati di pulau ini. Menurut cerita yang beredar, konon seorang gadis muda Belanda bernama Maria masih sering menampakkan diri di Pulau Onrust saat malam hari. Kebersihan di Pulau Onrust masih jauh lebih baik daripada dua pulau sebelumnya. Sampah yang berserakan di bibir pantai sangat terminimalisir, terdapat toilet umum yang keadaannya bisa disebut layak pakai, terdapat pula juru kunci dan penjaga pulau yang menghuni pulau tersebut.

Wednesday, June 30, 2010

Language

Gender dalam Bahasa Indonesia 
disampaikan oleh Hein Steinhauer dalam kuliah umum Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia


Dalam sebuah kuliah umum, Hein menjelaskan tentang penggunaan kata-kata yang mengandung gender baik dalam bahasa Indonesia dan perbandingan contohnya dengan sistem kata ber-gender dalam bahasa asing. Menurut saya, sistem bahasa suatu daerah atau negara sangat erat kaitannya dengan kultus budaya yang dianut dan dipahami masyarakatnya. Namun Hein hanya menjelaskan faktor penyebab penggunaan gender dalam bahasa dari segi semiotik dan linguistiknya saja.


Dalam bahasa asing, misalnya bahasa Belanda, sebuah kata dilansir memiliki jenis kelamin. Dengan penggunaan kata sandang “de” atau “het”, artinya telah mendikotomikan sebuah kata untuk memiliki gender. Namun yang menjadi pertanyaan saya sesudahnya adalah: jika kata-kata yang menggunakan kata sandang tersebut diubah ke dalam bentuk pronomina/kata ganti orang ketiga, mengapa pronomina yang tersedia hanya sebatas “hij” (maskulin) dan “het” (netral)? Sepanjang apa yang saya pelajari dalam bahasa Belanda, tidak ada kata ganti “haar” (feminin) untuk pronomina berkata sandang “de/het”. Saya menyimpulkan bahwa dalam bahasa Belanda pun masih terdapat ketidaksetaraan gender. Hein mengungkapkan bahwa beliau juga tidak mengetahui apa sebabnya kata ganti feminin tidak dipakai atau digunakan. Hein mengatakan sulit untuk mengetahui apakah sebuah benda itu maskulin atau feminin baik dari bentuk fisik maupun makna.


Dalam bahasa Indonesia sendiri, menurut saya, penggunaan gender maskulin dan feminin sangat mudah dipahami dan dilihat. Penggunaan kata sapa untuk perempuan (ibu, nyonya, nona, mbak, dsb) sangat berbeda dengan penggunaan kata sapa laki-laki (bapak, tuan, mas, dsb). Bahasa Indonesia menggunakan perumpamaan ibu atau perempuan untuk idiom-idiom tertentu, contohnya ibu jari, ibu kota dan ibu pertiwi. Ibu jari artinya jempol/jari yang paling besar, ibu kota artinya kota terbesar/terpusat dari suatu daerah, dan ibu pertiwi artinya negeri/tanah air. Mengapa yang digunakan adalah kata feminin (secara makna) dan bukannya kata maskulin (ayah jari, bapak kota, bapak pertiwi)? Ternyata penggunaan kata “ibu” dalam tiga contoh tadi disebabkan karena pemuliaan perempuan dalam masyarakat. “Ibu” dianggap sosok yang mulia, besar, mengayomi dan memang karakternya sesuai untuk tiga makna tadi. Jadi, penggunaan kata feminin untuk ketiga frase di atas disesuaikan dengan sifat dan ciri dari “ibu”.


Jika idiom yang menggunakan kata feminin seperti yang disebutkan di atas berdasarkan sifat dan ciri karakternya, maka berbeda dengan frase yang menggunakan kata maskulin. Contohnya, bapak pembangunan, bapak koperasi dan bapak negara. Kata “bapak” digunakan tidak untuk mewakili makna yang tersirat melainkan tersurat, baik secara ciri fisik ataupun karakter. Inilah yang membedakan penggunaan gender kata dalam berbahasa. Saya menyimpulkan kata feminin lebih sering digunakan untuk idiom atau ungkapan, sedangkan kata maskulin digunakan untuk makna yang tersurat.


Saya melihat penggunaan perbedaan gender dalam kata/frase/idiom bahasa Indonesia tidak sekental/mutlak seperti dalam bahasa asing lain, yakni Belanda, Rusia, Swahili, Jerman dan Perancis. Sepertinya bahasa Indonesia masih lebih menerima perbedaan itu walau terkadang masih menggunakan kata feminin untuk suatu ungkapan. Mungkin itu merupakan suatu penghormatan untuk sosok perempuan atau memang kata feminin tersebut lebih dekat dengan masyarakat dan budayanya.


-19 November 2009-

Friday, June 25, 2010

Verhaaltje (2)

Sang Pelukis Senyum

”Tersenyum yang manis, biar dunia lari ke sinar cerah,” [Naif]



Api menari-nari pada sumbu hio, mendalang bayang-bayang genting pada dinding kayu tak berpelitur. Sesekali angin ikut memainkannya, membuatnya meliuk melikuk kikuk bersama debu lalu dan tergelitik.

”Hatchuuuu!”

Bersin Kim baru saja membuyarkan lamunanku. Aroma dupa yang dibakar merasuki hidungku. Aku menatap ke arah Kim. Udara tidak cukup dingin untuk meletuskan sebuah bersin dari pangkal hidungnya. Namun dalam semburat cahaya siang, debu terlihat menggerayang di sekelilingnya.

Kim berdiri geming, hening menyayupi. Dia merapatkan kedua telapak tangannya dan menempelkan ujung-ujung jarinya ke bibirnya yang tipis. Kepalanya menunduk dan matanya tetap terpejam. Sesekali dia berdengum panjang, ”Oooooooom....”

Aku selalu bisa menemukan Kim di situ, vihara kecil di sudut jalan pecinan yang selalu sepi. Sebuah sungai meretas usia di depannya, menjadi teman bagi kuil yang hampir ditinggalkan.

Ya, saat aku tak bisa menemukannya berjaga bersama Encik Mai di kedai mie seberang sungai, aku tahu dia pasti sedang menenangkan diri dalam sembahyang.

Kim menengadahkan kepalanya dan membuka matanya, menatap sebuah patung porselen yang dua kali lebih tinggi darinya. Aku tidak tahu dewa apa yang berdiri dihadapannya; laki-laki berjanggut panjang dengan kelopak mata berwarna merah. Bibirnya yang juga merah mengulas senyum. Jubah kuning dengan benang-benang emas menyelimuti kemegahannya. Seorang dewa kaya raya yang sangat ramah, pikirku.

Kim mengusap wajahnya dengan tangan-tangannya yang terbuka. Dia mengakhiri doanya dan berbalik sembari kaget melihatku.

”Aku selalu tahu tempat pelarianmu saat kau menemui jalan buntu, Kim,” mulaiku.

Kim hanya tersenyum dan hampir melenyapkan sekelumit mata yang tersisa dari wajah kuningnya.

”Jangan melempar senyum kepadaku, aku tahu kau sedang tidak bisa melakukan itu,” tukasku.

Lagi-lagi Kim tersenyum.

”Mengapa kau selalu saja marah, To?” tanyanya dengan nada sabar.

Sejujurnya aku tidak marah. Aku hanya merasa tertekan. Bagaimana kau bisa merasa tenang ketika sebuah masalah besar sedang bermain-main dalam hidupmu, Kim? Dan dia hanya tersenyum menghadapinya. Itulah yang kusuka darinya, Kim sangat sabar dan berhati lapang. Dia tidak pernah menangis. Tapi itulah yang kutakutkan darinya, pribadi yang terlalu kuat hati.

Sekali saja dalam hidupmu, menangislah di pundakku. Akan kuberikan pundakku yang terlalu lapang ini untuk menjadi sandaran kepalamu dan resapan air matamu. Menangislah, sebagai tanda kau manusia biasa sepertiku. Menangislah, Kim! Aku tahu masalah yang kau hadapi sangat pelik dan rumit, pasti kau ingin berteriak, berlari ke tempat sempit dan gelap, lalu mengejar kencang hingga habis suaramu, lalu akhirnya kau pun menangis.

”Tidak, semua akan baik-baik saja, To. Kau harus yakin. Cepat atau lambat aku pasti akan bisa keluar dari labirin ini. Berusahalah untuk tetap hidup dan percaya.”

”Masih ingat kisah pewayangan yang kau ceritakan itu?” lanjutnya pelan. ”Masalahku ini belum seberapa dengan apa yang telah dialami oleh Drupadi. Setidaknya aku tidak ditelanjangi bulat-bulat. Aku hanya dipermalukan dengan celaan dan tuduhan yang keluar dari lidah-lidah bercabang yang terus mendesis. Bukan harga diriku yang dicarut, hanya sebuah nama yang melekat sejak lahir.”

Oh, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan wataknya. Entah aku harus berkata apa, atau memikirkan apa.



Kim selalu menjadi pelukis senyumku saat aku lupa bagaimana caranya tersenyum, saat aku tidak tahu untuk apa aku tersenyum atau mati rasa untuk merasakan sebuah senyuman. Sedangkan Kim yang selalu tersenyum, nampaknya tak butuh seorang pelukis senyum. Garis lengkung yang indah selalu menyimpul pada bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang bisa mengobati hati yang terluka. Sebelum aku tersenyum, dia sudah tersenyum terlebih dulu. Lagipula, siapa yang bisa menjadi pelukis senyum bagi seorang pelukis senyum?

”Yakin kau tidak ingin menangis, Kim?”

Kim menggeleng pelan dan tersenyum, ”Aku masih kuat.”

Aku menggenggam tangannya yang dingin. Sekali lagi Kim telah melukis sebuah senyum yang tadinya tidak ingin kutunjukkan. Tapi karena dia, aku tersenyum untuk sebuah harapan.



***



Nafasku terengah-engah. Seperti dugaanku, aku pasti bisa menemukan Kim di dalam vihara di seberang kedai mie milik Encik Mai.

”Kim, kau memenangkan perkara ini!” teriakku senang.

Aku menghampiri Kim dan dia langsung memelukku erat. Di wajahnya tergurat rona bahagia dan puas. Aku balas memeluknya dan tinggiku membuatnya sedikit terangkat dari tanah.

Kali itu adalah pertama kalinya aku melihat Kim menangis sambil tersenyum. Apakah akhir dari masalahnya yang telah membuat dia menangis haru atau aku terlalu erat memeluknya hingga dia kesakitan?

Aku melihat ada danau di mata Kim. Sekelumit mata sipit dengan sedikit bulu yang menjulang di tepinya memantulkan binar langit. Bendungannya luber dan membanjiri pipi gembil yang merona merah.

Kim menangis dengan senyum yang perlahan pudar. Garis bibir yang melengkung perlahan mencembung, dan senyumnya pun lenyap. Rasa khawatir menjalari romaku. Tangis Kim makin lama makin besar. Aku memeluknya semakin erat, berharap dia tenang dan membiarkan kemejaku menjadi asin. Kim tersengguk-sengguk. Aku membawanya duduk dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.

”Aku sudah tidak bisa lagi menjadi kuat,” ucapnya lirih. ”Tidak bisa,” ulangnya.

Aku menepuk-nepuk pundaknya, membelai rambutnya yang sangat halus, dan tidak menghentikan tangisannya. ”Teruslah menangis,” kataku. ”Sampai kau tidak bisa menangis lagi.”



***



Aroma dupa memenuhi ruangan. Api-api pada sumbu-sumbu hio bertapa tanpa seruan: ”Oooooooom....”. Mengingat pertemuan terakhir dengan Kim selalu membuatku menitikkan air mata dan mengguratkan senyum.

”Lihat sekarang siapa yang menjadi pelukis senyum?” goda Kim kala itu setelah menangis. ”Kau salah Darto jika menganggap seorang pelukis senyum tak butuh pelukis lain untuk melukis dirinya.” Kim bersandar lunglai di bahuku. Tangannya semakin dingin. Rona merah di pipinya memudar. ”Kau adalah pelukis senyumku,” lanjut Kim. Lalu dia memejamkan matanya dan tertidur dalam damai pertapaan. Hingga saat ini, Kim tak pernah lagi terbangun.


27/3/2010, 03:08
Saat malam menjamah nadir

-Hippolyta-